.... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H...... Mohon maaf lahir dan batin....

Minggu, 22 April 2012

Nipah berpotensi paling besar untuk bahan bioenergi






POTENSI PENGEMBANGAN BIOENERGI DI KALIMANTAN BARAT

Berdasarkan hasil evaluasi potensi sumber daya lahan untuk beberapa komoditas penghasil bioenergi, terdapat 76.475.451 ha lahan yang sesuai untuk kelapa sawit, kelapa, tebu, jarak pagar, kapas, ubi kayu, dan sagu. Penyebaran lahan terluas terdapat di Papua, Sumatra dan Kalimantan (Las dan Mulyani 2006). Namun komoditas penghasil bioenergi tersebut merupakan sumber bahan pangan, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, tebu, sorgum, dan sagu, sehingga sulit untuk bersaing dengan kebutuhan konsumsi pangan.

Kalimantan barat memiliki sumberdaya alam yang cukup berlimpah dan potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku bioenergi. Selain tanaman kelapa dan kelapa sawit yang subur tumbuh di wilayah kalimantan barat yang dapat di jadikan sebagai bahan baku biofuel (biodiesel), salah satu tanaman yang juga memiliki potensi sebagai sumber bahan baku bioenergi adalah tanaman Nipah (Nypa fruticans) yang dapat dijadikan sebagai bioetanol.
Tanamana nipah (Nypa fruticans) selama ini tumbuh liar di sekitar hutan mangrove di pesisir pantai maupun sungai. Secara agronomis, tanaman Nipah tumbuh subur di hutan daerah pasang surut (hutan mangrove) dan daerah rawa-rawa atau muara-muara sungai yang berair payau. Di Indonesia luas daerah tanaman nipah adalah 10% dari luas daerah pasang surut sebesar 7 juta ha atau sekitar 700.000 ha. Penyebarannya meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Rachman, 1992).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kelapa Nypa menghasilkan 5 sampai 7 kali lebih banyak energi dibandingkan dengan spesies lain. Hasil dari satu hektar kelapa sawit Nypa dengan bantuan dari teknologi yang canggih dapat berkisar 4.000-16.000 liter etanol per sadap musim. Selain itu, Nipah memiliki kandungan gula yang tinggi (nira) yang bila dikonversi menjadi menjadi etanol/ Butanol memungkinkan untuk menghasilkan sebanyak 6.480-15.600 liter/ hari/ ha. Nilai konversi itu lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tebu yang menghasilkan 5.000 – 8.000 liter per hektar (per tahun) atau tanaman jagung yang hanya menghasilkan 2.000 liter (per tahun) per hektar. Namun hal yang terpenting, dalam pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Saat ini keberadaan tanaman nipah yang vegetasinya cukup berlimpah di Kalimantan barat belum di manfaatkan sama sekali untuk memproduksi etanol. Padahal, tanaman ini amat sangat melipnah di Indonesia karena tanaman ini umumnya tumbuh di pantai dan negara kita adalah salah satu negara dengan garis pantai terluas di dunia. Sejauh ini, pemanfaatan nipah oleh masyarakat kalimantan barat khususnya pesisir pantai dan sungai terbatas pada daun dan tulang daun (lidi), daun nipah yang telah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk membuat atap rumah yang daya tahannya mencapai 3-5 tahun. Daun nipah yang masih muda mirip janur kelapa, dapat dianyam untuk membuat dinding rumah. Di Sumatra, pada masa silam daun nipah yang muda (dinamai pucuk) dijadikan daun rokok. Kalaupun ada yang memanfaatkannya untuk gula nipah hanya untuk konsumsi sendiri, sehingga pemanfaatannya belum maksimal. Jika potensi nipah dioptimalkan untuk menghasilkan bioetanol, maka akan berdampak luas pada kehidupan masyarakat dan ketersediaan energi di kalimantan barat.

PEMANFAATAN TANAMAN NIPAH SEBAGI BAHAN BAKU BIOETANOL
Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Saat ini, Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar dan merupakan mangrove terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha). Bila asumsi 30 % hutan mangrove sebagai hutan nipah, maka diperkirakan terdapat sekitar 0,75 -1,35 juta hektar hutan nipah di Indonesia.

Nipah merupakan salah satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Nira yang terdapat dalam pelepah nipah berdasarkan penelitian mengandung kadar gula (sucrose) berkisar antara 15 – 17 %. Dengan kandungan itu, maka nira nipah berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri bioetanol. Rata-rata setiap pelepah nipah menghasilkan nira sebanyak 0,5 per hari dalam satu tahun, setiap malay pohon dapat disadap hingga 3 bulan, dengan demikian rata-rata produktivitas tiap malay nipah adalah sebesar = 0,5 L/hari x 90 hari = 45 L/th. Jika jumlah pohon nipah yang efektif adalah 3000 pohon per hektar dan semakin rapat maka pohon nipah tidak akan menghasilkan mayang. Dalam suatu lahan pun biasanya tidak 100% pohon nipah menghasilkan mayang, biasanya sekitar 40% saja, dengan demikian , nira yang dihasilkan = 40% x 3000 x 45 L = 54.000 L/ha/th. Jika nira tersebut dimanfaatkan untuk produktipitas bioetanol, maka kemungkinan kadar alkohol yang dihasilkan adalah 6 – 7%, dengan demikian = 54.000 x 7 persen x 100/95 = 3.978 L/ha/th. Luas hutan Nipah di Indonesia sekitar 0,75 – 1,35 juta, maka Indonesia berpotensi menghasilkan bioetanol dari tanaman nipah = 4000 L/ha x 0,75 juta ha = 3000 juta Liter = 3 juta kL.

Berdasarkan hasil penelitian, Nira Nipah mampu menghasilkan tujuh jenis biofuels ethanol yang menjadi bahan bakar nabati menggantikan bahan bakar fosil. Ketujuh jenis biofuels ethanol mangrove nipah tersebut diantaranya Bioethanol Nipah kadar 100 persen, Biokerosin nipah kadar 70 persen, Biopertamax nipah 95 persen Pertamax plus lima persen ethanol, Biopremium e20 nipah 80 persen bensin plus 20 persen ethanol, biopremium e85 nipah 25 persen bensin plus 85 persen ethanol, Biodiesel serta Gliserin Biodiesel Nipah plus CPO. Produk hasil olahan nipah tersebut diantaranya bioethanol kadar 100 persen dan bioethanol kadar rendah 70 persen sebagai biokerosin sebagai pengganti minyak tanah yang memiliki keunggulan api biru. Minyak ini lebih irit 1:6 cepat panas/masak, tidak meledak layak tabung elpiji. Bioethanol 100 persen di subtitusikan dengan bahan bakar fosil E 10 – 20 ke primium (bensin) menjadi Bio premium yang memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan, serta produk jenis Bioethanol 100 persen yang di subtitusikan dengan bahan bakar pertamax E 5 menghasilkan produk biopertamax salah satu bahan bakar yg memiliki keunggulan bahan bakar berkadar oktan tinggi dan ramah lingkungan. Ada juga menghasilkan produk biodiesel yang berfungsi menggantikan solar.

Seiring dengan menipisnya cadangan energi BBM dan target diversifikasi 5 % pada tahun 2025, maka nipah dapat menjadi alternatif yang penting sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM). Berbeda dengan tanaman lain yang sama-sama menghasilkan nira atau pati, tanaman nipah ini jelas menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut karena pelepah bermayang atau manggar pohon nipah berada tak jauh dari permukaan tanah sehingga tidak perlu memanjat untuk memperoleh niranya seperti pada tanaman palma yang lain. Selain itu juga, pohon nipah umumnya tumbuh di daerah yang tidak produktif untuk budidaya lainnya dan tumbuh di daerah yang memudahkan pengangkutan lewat perairan serta pemanfaatan nipah sebagai bahan baku bioenergi yaitu tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan pada umumnya.

Pemanfaatan bietanol sebagai bahan bakar nabati menunjukan kecendrungan yang semakin meningkat. Permintaan etanol AS sendiri berdiri pada 22 miliar liter tahun lalu, dan bahwa biofuel diperkirakan akan memberikan 30% dari energi global pada tahun 2020. Amerika Serikat adalah produsen ethanol terbesar di dunia, dan Brasil adalah eksportir etanol terbesar di dunia. Pada tahun 2005 brasil telah memproduksi 16,6 miliar liter ethanol dan sekitar 80% nya (13,4 miliar liter ) digunakan sebagai bahan bakar (biofuel). Menurut Asosiasi Bahan Bakar Terbarukan, ada 106 pabrik ethanol sudah beroperasi di AS, dan 48 pabrik tambahan yang sedang dalam tahap pembangunan, serta tujuh pabrik yang mengalami perluasan. Dengan demikian prospek penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar masa depan kemungkinan akan terus meningkat seiring terjadinya peralihan penggunaan bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan. Ditambah dengan kelebihan dari bioetanol yang ramah lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar telah disetujui setiap produsen mobil utama di dunia dengan formulasi E – 10 Unleaded (10% ethanol/90% bensin tanpa timbal biasa). Selain itu, Penggunaan etanol-bensin dicampur membantu mengurangi tingkat ozon troposfer.

Pengembangan bioetanol dari nipah sudah saatnya untuk dipertimbangkan sebagai sumber energi alternatif masa depan. Namun sayang penelitian mengenai bioetanol nipah di Indonesia masih sangat sedikit, kalah dibandingkan negara Malaysia. Di Malaysia, pemanfaatan nira nipah sudah sangat gencar dilakukan. Bahkan mereka menobatkan diri sebagai negara pertama di dunia yang memproduksi bietanol dari nipah secara komersial dan dalam waktu dekat akan segera mematenkan alur produksi bioetanol dari nipah. Indonesia seharusnya bisa lebih maju dalam pengembangan bioenergi mengingat begitu banyaknya potensi sumberdaya alam yang dimiliki dan tersebar di seluruh kepulauan indonesia salah satunya Kalimantan barat.

Di Kalimantan barat hampir setiap pinggir sungai diwilayah pesisir ditumbuhi pohon Nipah yang sangat subur dan rapat sehingga sulit untuk ditembus. Vegetasi tumbuhan tersebut hanya hidup dan berkembang di daerah air payau atau lebih dikenal dengan mangrove. Hutan Nipah yang tersebar hampir sepanjang pantai Kalimantan Barat tentunya menjadi potensi yang cukup besar bagi penyediaan bahan bakar nabati maupun penyerapan tenaga kerja setempat.

Biofuel ethanol berbasis kearifan ekosistem jutaan hektare hutan mangrove nipah di pesisir-pantai diharap memberikan kontribusi nyata, karena memiliki nilai lebih dibandingkan komoditi tanaman energi lain. Eksploitasi sumberdaya yang ada untuk produksi etanol secara berkelanjutan dapat menjadi strategi yang bagus untuk memberikan penghasilan tambahan untuk komunitas mangrove, yang sering hidup dalam kemiskinan.

Sumber : http://apwardhanu.wordpress.com/2011/04/02/potensi-pengembangan-bioenergi-di-kalimantan-barat/

2 komentar:

  1. terimakasih informasinya pak kusumanto,, saya Andy exportir lidi nipah, apakah di sana sudah tersosialisasikan untuk membuat lidi nipah dari tamanaman nipah ini pak? jika belum saya berkenan untuk mesosialisasikanya kepada masyarakat, supaya bisa mengolah dan menjual hasil produksi lidi nipah ini, jika berminat bisa hub saya ni no 08116508881 terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan
      silahkan hubungi
      Ki Witjaksono di:0852-2223-1459
      supaya lebih jelas

      Klik-> PESUGIHAN DANA GAIB

      ingat kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya

      Hapus